HendRa_cåLM said-
AKU MASIH MENCINTAIMU! OLEH : Susanti Angelia “Nih anak baru nyebelin banget, sih!” batinku dalam hati. Baru 3 hari duduk denganku saja, ia sudah mematahkan 2 penggaris dan menghilangkan 3 pensilku. Lama-lama isi kotak pensilku bisa habis hanya untuknya. Lagian, beli pensil aja gak bisa. Dasar gak modal !!“Rhol, mana pensil yang lo pinjem kemaren?” tagihku.“Gak tau, ilang kali!”Santai banget! Memangnya aku membelinya tidak memakai uang ? Pensil itu mahal tau ! Berarti, ia sudah menghilangkan 4 pensilku. Cowok buduk !Pak Rizky, sang guru biologi, sudah datang. Kalau aku marah-marah sekarang sama saja cari mati. Lebih baik aku menyimpan semua unek-unekku untuk istirahat nanti. Lihat saja !Seperti biasa, pelajaran biologi dimulai dengan mencatat. Saat sedang asyik mencatat, akun melihat sebuah tangan menyambar kotak pensilku sambil berkata,“Pinjem pensil, dong!”“Gak boleh!” kataku tegas. Aku mengambil kotak pensilku kembali. Enak saja ! Sudah menghilangkan pensilku, sekarang ingin pinjam pulpen lagi ? No way !“Pelit banget, sih!” protesnya. Ia merebut kotak pensilku lagi. Aku merebutnya kembali. Begitu terus , hingga aku merasakan tanganku merebut kotak pensil lebih dari 10 kali.“Lo nyebelin banget, sih! Makanya beli, dong! Jangan minjem mulu!” kataku setengah berteriak.Detik itu juga aku merasakan seisi kelas menatap ke arah kami.“Apa lihat-lihat? Gak tau orang lagi marah apa?” bentakku.Beberapa temanku meringis dan memberi isyarat agar aku menatap ke depan.Aku mendapati Pak Rizky menatapku marah di balik kacamatanya. Ia melipat kedua tangan di depan dada.OMG! Saking kesalnya, aku melupakan kehadiran Pak Rizky. Arhol hanya menahan tawa di sampingku. Huh!“Fanny, kenapa kamu teriak-teriak begitu?” teriaknya marah. “Ini di ruangan kelas, bukan di hutan!”Gawat!“Ma.. Maaf, Pak! Gak sengaja!” jawabku terbata-bata.“Gak sengaja kamu bilang? Sekarang kamu keluar! Cepat!” * * *“Kenapa, lo? Suntuk banget!” tanya Nikki kepadaku.“Tuh, si Arhol! Nyebelin banget!”“Arhol lagi? Gue bingung deh kenapa lo benci banget ma dia! Dia kan ganteng, pinter, lucu lagi!”“Makanya, periksa mata! Segitu dibilang ganteng, jeleknya gimana?”Nikki hanya tertawa.Hari demi hari berlalu. Aku sudah jarang beradu mulut dengan Arhol. Sebaliknya, kami menjadi teman yang akrab. Baru kusadari ia teman yang sangat menyenangkan.Hingga suatu saat, aku merasakan sesuatu yang sangat berbeda. Benar juga kalau benci dapat berubah menjadi cinta. Seperti yang kurasakan.Esoknya,“Fan, gue pengen ngomong sesuatu,” katanya penu misteri.“Apa?” kataku deg-deg-an. Biasanya, kalau seorang cowok ingin bicara sesuatu dengan cewek mereka akan mengungkapkan . . . . . “Lo jelek banget!” katanya yang membuat harapanku pupus sekaligus kesal. Aku cemberut.“Gue sayang elo!”DAMN! WHAT? Aku gak salah dengar, kan? Aku tidak tahu harus berkata apa. 3 kata tadi membuatku tidak bisa berkata-kata saking shock-nya.“Mau jadi pacar gue, gak?” tanyanya lagi yang makin membuatku lemas.Detik demi detik berlalu dan aku belum memberikan jawaban.“Fanny…. Jawab, dong!”“Emm . . ““Shock yah baru ditembak cowok ganteng?” tanyanya, narsis. Tapi yang ia katakan memang benar.“Huuuu.. Narsis!!” ejekku setelah aku berhasil menemukan suaraku kembali.“So? Gimana? Harus mau!” katanya, memaksa.Aku mencibir.“Mau, kan?”Aku mengangguk dan berakhirlah semuanya.Aku bermaksud untuk menceritakan semua ini kepada Nikki. Tapi, aku tidak sanggup setelah ia mengucapkan sesuatu yang sangat menyakitkan.“Arhol tuh keren banget! Kayaknya gue naksir, deh!”Aku hanya diam.“Lo bantuin gue ngedeketin dia , yah?” aku hampir tersedak. Itu tidak mungkin aku lakukan. Aku baru saja mendapatkan cintaku dan aku sangat menyayanginya. Tapi, ini temanku sendiri. Aku tidak mungkin menyakitinya.Aku mengangguk menyanggupi.Esoknya, aku mendekati Arhol dan menjalankan tugasku atau lebih tepat disebut pengorbanan.“Rhol,”“Yup, knp, Fan?”“Lo tau alasan gue mau nerima lo?”“Karena lo sayang gue. Ya, kan?”“Salah.. Karena gue cuma mau manfaatin lo! Gue gak pernah benar-benar sayang ma elo!” kataku, berusaha menahan tangis.Ia tampak tertekan dan sangat sakit. Ia berdiri, “Jadi, selama ini kamu nipu aku? Kamu kira itu perbuatan hebat? Aku gak nyangka dan nyesel banget!’ ia berlalu dan meninggalkanku. Aku benci semua ini. Sekarang, Arhol menjauhiku, Ia tidak duduk denganku lagi. Tidak ada canda tawa seperti dulu. Arhol tidak pernah tahu apa yang aku rasakan. Ia tidak pernah tau kalau aku mash mencintainya,. Ia tidak pernah tahu kalau aku hanya berkorban untuk teman yang aku sayangi. Dan, andai Nikki tau kalau sebelumnya Arhol sudah menjadi milikku.Sudahlah! Semua sudah berlalu! Aku hanya bisa menatap mereka dari jauh sambil berpegangan tangan dan berdoa untuk hubungan mereka.Aku masih mencintaimu, Arhol! nama : susanti angeliaalamat : jl.sukajadi karawaci. Tangerangtelp: 085719289885e-mail : susantiangelia@rocketmail.com
Populerkan, simpan atau kirim cerpen ini :Pagi itu aku berangkat sekolah seperti biasanya. Olahraga jalan kaki merupakan
kebiasaanku tiap hari. Ya maklum sekolahku kan tidak terlalu jauh dari rumahku. Tapi
kadang-kadang jika ada temanku yang kebetulan lewat ya numpang sekalian deh. He.. he..!
tapi ada sesuatu yang membuat perjalananku terhenti. Sosok cowok tampan sedang berdiri di
hadapanku. Cowo’ ini bukan cowo’ yang biasa aku lihat di mall atau sejenis cowo’ gaul zaman
sekarang. Tapi cowo’ ini benar-benar terlihat dewasa dengan kemeja yang menunjukkan
bahwa dia adalah seorang bussines man. Walaupun seleraku tak seperti dia sih, tapi entah
kenapa ada sesuatu yang membuatku tertarik padanya.
Dengan bibir sedikit tersungging, dia memberikan senyum pertamanya padaku. “oh my
god, bener-bener tembus deh ni perasaan!” kataku dalam hati. Tanpa pikir panjang aku
langsung membalasnya dengan senyum terlebarku yang menurutku terlalu berlebihan.
“Selamat pagi!” sapanya dengan ramah. “se,, se,, selamat pagi juga!” jawabku dengan sedikit
terbata-bata. Itulah awal perkenalanku dengannya. Ternyata dia adalah tetangga baruku. Kita
sih ngga’ ngobrol banyak, kan aku harus sekolah juga.
Tak lama kemudian, terdengar bunyi klackson motor. “Icha, ga numpang nih!” sapa
pengendara motor itu. Langsung saja aku naik ke atas motornya. Dia adalah teman sekelasku,
namanya Dony. Lumayan sering sih aku numpang sama dia. Bisa dibilang Dony adalah
sahabatku sejak kecil.
Rasanya sekolah hari ini ngga’ bisa konsentrasi deh. Apa karna si Ferdy ya? Senyum
sendiri, ketawa sendiri, suka ngelamun. Ya ampun, kayaknya aku terserang penyakit jatuh
cinta deh. “kayaknya hari ini ceria banget!” tanya Dony. “siapa yang ga’ bahagia kalau pagi-
pagi udah dapet sarapan yang begitu menyenangkan” jawabku. “oh jadi pagi ini ibu kamu
masak pecel lele?” tanya-nya lagi. Dony ngerti banget makanan favoritku. “sekarang udah ada
yang lebih menyenangkan daripada makan pecel lele” tambahku. “emang apa’an?” tanya
Dony. “menikmati karunia Tuhan yang begitu mengagumkan!” jawabku. Si Dony kayaknya
seperti sapi ompong yang kebingungan mendengar jawabanku yang dari tadi ngga’ jelas
maksudnya.
Hari ini pokoknya aku pengen banget pulang sekolah cepat. Tapi kok di rumahnya
sepi2 aja, ngga’ terlihat ada aktivitas. Sebentar-sebentar aku melihat keluar hanya untuk
memastikan kalau pengintaianku ngga’ sampe’ kelewatan. Seminggu ini aku kayak detektif
aja. Pokoknya kalah deh acara “Termehek-mehek”. Satu minggu udah berlalu, hasil
pengintaianku ngga sia2. Dia adalah seorang SPV di suatu perusahaan yang bergerak di
bidang otomotif, umurnya kira-kira 26th. Meskipun terlampau jauh dari umurku tapi yang
namanya cinta ngga’ memandang apapun.
Minggu pagi aku jogging di dekat rumah, ngga’ tau kenapa hari ini aku pengen banget
lari pagi. Padahal hari libur selalu aku gunakan untuk tidur pulas alias bangun siang. Belum
lama berlari hp berdering, oh ternyata Dony yang telp. “kenapa don?” tanyaku. “tumben mau
angkat telpku pagi-pagi gini, biasanya alasan masih tidur” jawabnya. Mendengar hal itu aku
sedikit emosi tapi sabar aja lah, ngga’ sampe’ buat aku kebakaran jenggot. “udahlah ngga’
pake’ komen ya, emg ada apa sih?” tanyaku ketus. “duh jangan ketus gitu donk, hm.. hm..
aku mau ajak kamu keluar nanti malam!” kata Dony. Tapi perhatianku tiba-tiba teralihkan
oleh sosok Ferdy yang waktu itu emang lagi jogging juga. “udah dulu ya Don, ntar aku telp
lagi!” jawabku sambil langsung mematikan hp takut-takut kalo’ aku sampe’ kehilangan
jejaknya Ferdy.
Walaupun dalam hati kepengen banget nyamperin dia tapi aku tetap menahan
langkahku, ya sedikit jaim gitu,,, semenit, dua menit aku menunggu dia, berharap dia dulu
yang mendatangiku. Tapi kok kayak orang ilang aku disini menunggunya ga’ jelas gitu, lagian
kelihatannya dia ga’ melihat keberadaanku di sini. Ya udah lah daripada lama-lama mendingan
aku dulu yang nyamperin dia. Walaupun harus modal tampang badak tapi demi cinta apapun
harus dilakukan.
“hai, kok bisa kebetulan ketemu di sini!” sapaku. Dalam hati rasanya ingin ketawa
karena smua ini kan aku yang menyengajakannya.
“mas Ferdy hobby jogging juga?”
“ga’ juga sih tapi lagi pengen aja”
“oh, hobby lain selain jogging apa?”
“aku lumayan suka baca...”
“wah kebetulan banget dong, aku juga hobby baca. Malahan aku jd member di Perpusda
(Perpustakaan Daerah). Kalo’ mas Ferdy pengen kesana buat lihat-lihat bukunya, bisa aku
temenin”
Sepertinya tawaranku itu membuatnya tertarik. Padahal aku jadi member di Perpusda itu
cuma pengen lihat-lihat majalah, novel yang lagi up to date tanpa harus beli. He,, he,,
Sorenya aku ke Perpusda dengan mas Ferdy. Ya ampun mimpi apa aku semalam bisa jalan
berdua dengannya. Dengan begini kan aku bisa mengamati ketampanan wajahnya itu dengan
seksama. Dan hal itu membuatku semakin jatuh cinta padanya.
Di sana dia membaca buku-buku yang berhubungan dengan otomotif. Aku sendiri gonta ganti
ambil buku tapi ga’ ada yang sempat aku baca satupun karena niatku emang cuma mau
keluar sama mas Ferdy.
Sepertinya hpku berdering deh, ngga enak juga sih sama yang lain. Akhirnya aku
keluar sebentar. Si Dony rupanya yang mengganggu acara kencanku.
“aduh Don, bisa ngga’ sih ga’ telp aku sehari ini aja”
“kenapa sih cha? Ga’ biasanya deh kamu kayak gini”
“ya udah, entar malem maen ke rumah aja. Ok!”
Sesampainya di rumah, aku ga’ bisa berhenti untuk memikirkan dia. Ga’ terasa jam
menunjukkan pukul 7 malam. “cha, dicari sama Dony!” teriak ibuku dari ruang tamu. Aku
keluar kamar menemui Dony di teras rumah.
“sekarang kamu udah sombong ya cha!”
“bukannya gitu Don., tapi akhir2 ini aku lagi ada proyek”
“proyek? Jadi kuli bangunan kamu sekarang?”
“enak aja kalo’ ngomong, aku tuh lagi falling in love tau...”
Mendengar hal itu muka Dony langsung berubah. Dan nada bicaranya pun agak merendah,
ngga’ seperti sebelumnya yang sedikit “mbleyer”.
“oh ya? Sama siapa kalo’ boleh tau?”
“aku rasa ini saatnya aku harus jujur sama kamu”
“maksudnya? Kamu ngga lagi bercanda kan? Udah lama sih kita temenan tapi ngga’ ada
salahnya kok kalo kita...”
“eits... eits.... jangan dilanjutkan lagi. Di sini aku tegaskan ya! Bahwa aku itu jatuh cinta sama
mas Ferdy, tetangga baruku”
Sepetinya lagu milik Olga “hancur hatiku” bisa mewakili perasaan Dony saat itu.
Walaupun hatinya kecewa tapi Dony ngga’ mau memperlihatkan itu padaku. Dia hanya
bisa tersenyum mendengar ceritaku tentang Mas Ferdy. Sekitar satu jam kita asyik ngobrol.
Tiba-tiba terlihat sebuah mobil melewati depan rumahku. Dan aku tau pemilik mobil itu adalah
mas Ferdy. Aku pun menunjukkan kepada Dony, bagaimana mas Ferdy yang aku sukai itu.
Tapi saat itu mataku terbelalak, aku ngga’ menyangka akan melihat pemandangan yang
menurutku lebih parah daripada penampakan. Dengan tawa riang mas Ferdy keluar dar
mobilnya bersama seorang perempuan. Tanpa pikir panjang, aku langsung mendatangi mas
Ferdy walupun Dony berusaha keras menghalangiku. “mas Ferdy...!” teriakku.
“ada apa cha? Kok kelihatannya lagi emosi gitu?” tanya mas Ferdy dengan tenang. Rasanya
ga’ mungkin aku marah2 ke dia hanya karena saat ini ada seorang cewek lagi bersamanya.
Akupun mencari alasan untuk menguatkan hatiku tuk memulai berbicara dengannya. “oh ya
mas, buku yang mas pinjam tadi sudah selesai dibaca belum soalnya aku juga mau pinjam
buku itu” sungguh alasan yang konyol bagiku. “oh sudah kok, mau pinjam sekarang?”tanya
nya ramah. “besok ajalah, kayaknya hari ini mas lagi sibuk” jawabku ketus sambil sesekali
melirik ke arah perempuan berjilbab itu. “hampir lupa nih, kenalin ini istri saya. Namanya
Anisa, saya baru jemput dari bandara barusan. Soalnya sejak pindah ke sini dia masih ada di
Yogyakarta” Jelas mas Ferdy. Betapa hancur hatiku mendengar penjelasan mas Ferdy saat itu.
Aku ga’ tahan lagi untuk segera pergi jauh dari sana. Langsung saja ku berlari secepat
mungkin yang kubisa. Aku ngga’ perduli baimana keadaan di sana. Yang ku tahu hanyalah
berlari dan berlari. Sampai ku terlelah dan ku merasakan pelukan yang begitu hangat dan
lekat. Dan kutahu dia adalah Dony.
Baca selengkapnya »