Oleh : Cindy Rutmiati
Di sebuah komplek rumah mewah ada sebuah rumah yang paling besar di antara rumah-rumah yang lain. Di depan rumah tersebut, terparkir sebuah mobil jaguar, dan di depan mobil tersebut ada anak perempuan dan laki-laki.
“Ya, aku lupa menggambil dompet aku. Tunggu sebentar ya di sini.” Ucap Alva sang pacar Alya
Sementara Alva menggambil dompetnya yang ketinggalan, perempuan yang bernama Alya ini menunggu di luar sambil bersender di mobil tersebut. Saat ini cuaca sangat bersahabat, sejuk dan damai.
Angin berhembus dengan ramah dan menyisir setiap helaian rambut Alya yang setengah tergerai. Ia menunggu sambil mengotak-atik ponsel-nya. Dari arah sebelah kirinya ada mobil BMW lewat persis di hadapannya. Kaca penumpang mobil tersebut terbuka setengah dan menampakkan wajah perempuan setengah baya yang sedang melihat Alya dengan tatapan seakan-akan punya arti. Setelah agak jauh posisi mobil tersebut dari Alya, kemudian mobil itu mundur dan berhenti tepat di depan Alya. Alya menengok dengan rautan wajah yang ramah dan senyuman yang menawan. Wanita setengah baya itu turun dari mobilnya dan langsung memeluk Alya. Wanita itu mengajak Alya masuk ke dalam mobil.
“Maaf, Tante, saya sedang menunggu Alva disini.” Ucap Alya
dengan pikiran yang bercampur aduk penuh heran. Wanita itu hampir mengeluarkan air mata dan mengeluarkan sepatah kata dengan suara sedikit serak.
“Sebentar saja Nak, nanti saya suruh orang lain untuk memberi tahu Alva kalau kamu ikut saya.”
“Maaf, Tante. Sebelumnya ada perlu apa dengan saya. Saya
benar-benar tidak mengenal Tante!”
“Kamu tenang saja.”
Dengan terpaksa Alya mengikuti wanita tersebut dan memasuki
wanita itu, pintu mobil terbuka dan Alya keluar dan di tuntun oleh wanita itu ke dalam rumah yang cukup mewah. Memasuki ruang tamu, Alya melihat begitu banyak foto keuarga yang terpampang hampir setiap sudut ruang tamu yang berukuran 7 x 7 meter. Wanita tersebut menghilang di dalam rumah yang penuh liku tersebut, sedangkan Alya berdiri tengak melihat foto-foto.
“Hey, gue kenal dengan ini cowok!” ucap Alya sedikit tersenyum.
“tapi kok, ini…” belum ia mengatakan sesuatu pada dirinya, Alya terkejut ketika wanita itu bersuara memanggil Alya dengan panggilan sera.
“Sera, kemari, mama sudah menyiapakan makanan kesukaan
mu!” ucap wanita tersebut sambil menggiring Alya ke ruang makan.
Setelah Alya duduk di kursi makan, ia melihat begitu banyak makanan yang mewah-mewah tertata dengan rapi di atas menja makan. Raut wajah Alya tidak mnegenakkan.
“Ada apa? Kamu tidak suka masakan yang mama buat?” “Em, bukan begitu. Tapi saya…” belum Alya menyelesaikan perkataannya, ada sosok laki-laki menyela pembicaraan, mungkin ia suami dari wanita itu.
“Ayo, Sera silahkan menikmati masakan yang di buat Mama.
Kasihankan Mama kamu sudah susah payah membuat ini semua!”
ucap Lelaki itu
Dua lawan satu, akhirnya dengan terpaksa Alya makan makanan yang ada di atas meja. Setelah itu wanita yang mengaku dirnya adalah Mamanya Alya, ia pun pergi ke dapur. Keanehan itu semakinjadi ketika lelaki tadi menyuruh Alya untuk mengikuti ke tempat yang ia tuju yaitu ruang perpustakaan.
“Maaf, perkenalkan nama saya adalah Andrew , sedangkan nama istri saya Dewi Pelangi.”
“Saya Alya. Saya boleh Tanya sesuatu?” Om Andrew mengangguk. “Saya tidak mengerti yang barusan terjadi. Om bisagasi tau saya!” Tanya Alya
Om Andrew mwngambil bingkai foto dan memberikan ke pada Alya yang mematung di depan meja kerja Om Andrew tersebut. Alya meraih bingkai foto tersebut dan melihatnya. Sedetik kemudian wajah Alya berubah seperti tidak percaya.
“Itu adalah anak saya, namanya Sera ia baru saja meninggal tiga bulan yang lalu karena ada penyumbatan pembuluh darah di otaknya.
Maafkan tindakan istri saya karena membawa Alya ke sini.” Om
Andrew melihat Alya dengan tampang heran. “Tenang saja Sera.
Maaf maksud saya Alya. Saya percaya sama kamu, walau kalian berdua mirip. Sekali lagi, maaf sudah merepotkan.”
“Kalau gitu sekarang boleh saya pulang?”
“Tentu saja. Dimana rumah Alya, biar Om suruh...” Alya memotong pembicaraan.
“Gak usah om! Saya bisa pulang sendiri kok.” Alya keluar dari ruangan saat membuka pintu, Tante Dewi sudah ada di depan pintu.
Seketika itu juga ia menarik tangan Alya ke ruang keluarga sambil
bicara sedikit teriak.
“Raaadiit…”sesampainya di ruang keluarga. “Radit, kamu tau tidak? Mama sudah membawa adik mu kembali ke keluarga kita.”
Ucap Tante Dewi dengan sangat gembira.
Radit adalah anak pertama mereka. Ia duduk di sofa sambil
menonton TV. Sepertinya dia baru pulang. Saat mendengar Tante Dewi bicara seperti itu, Antara Radit sama Alya saling bepandanagan.
Reaksi Radit sangat aneh.
“Hai, sudah lama kita tidak bertemu!” sapa Alya pada Radit, tapi ia malah buang muka.
“Sera sekarang kamu pergi mandi. Kamu tidak lupakan di mana kamarmu berada?” Tanya Tante Dewi. “Kalau begitu biar Mama siapkan, kamu tinggal dulu disini.” Tante Dewi pergi dan menaiki anak tangga satu persatu. Alya berdehem pada Radit.
“Heh, gue tau loe emang mirip sama ade gue, tapi jangan cara licik donk. Ngaku-ngaku loe adik gue. Ngaca dong loe!” kesal Radit.
“Denger ya, gue lagi di rumah cowok gue, tapi gue malah di seret kesini sama nyokap loe. Jangan geer duluan.” Radit Cuma terdiam.
“Oia, gimana hubungan loe sama Ria. Gue masih ingat saat di SMA dulu loe ngejar dia mati-matian. Terakhir, gue dengar loe di terima lagi ya?” Tanya Alya.
“Gue peringatin loe, jangan ikut campur masalah orang lain termasuk gue. Ngerti!” galak Radit.
“Ya elah, biasa aja kali buk! Gue kan Cuma Tanya, baik-baik lagi.”
Alya berdiri. “Menurut gue, Ria ninggalin loe itu bener banget. Karena siapa juga yang mau sama orang yang gak menghormati wanita kaya loe. Ntar kena karma loe!” Alya langsung kabur ngibrit keluar rumah tersebut. Sedangkan Radit mengerutu di tempatnya.
***
“Begitu Kak, ceritanya. Emangnya selama Kakak bertetanggaandengan mereka, apa tidak merasa kalau aku sama anak mereka yang namanya Sera itu mirip?” Tanya Alya saat di rumah Alva.
“Aku gak terlalu memperhatikannya. Soalnya Sera dari dulu jarang keluar. Apalagi aku sibuk dengan pasien di rumah sakit.” Jawab Alva dengan wibawan sang Dokter
Ketika Alya keluar dari rumah Alva, tapi sepeti ada yang ngikutin dia. Saat ia mau melihat kebelakang, ia langsung di bekap dan tak sadarkan diri. Alya dibawa oleh mobil sedan dan ternyata itu orang suruhan Tante Dewi. Saat alya terbangun ia merasa sedikit pusing dan ia beranjak dari tempat tidur. Saat mau keluar kamar, ia melihat dirinya di dalam kaca. Alya terpana saat melihat dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki yang benar-benar beda dari biasanya.
Seorang pelayan masuk dan menyuruhnya ikut bersama dia menuju ke runang makan. Selama itu Tante Dewi selalu berbicara dengan Alya sampai larut malam. Malam itu Alya terpaksa menginap di rumah Tante Dewi. Paginya antara Tante Dewi dengan Alya kembali berbincang-bincang. Saat hampir tengah hari, Om Andrew pulang dari kantor dan ia mengajak bicara Alya di gajebo belakang rumah.
“Alya, sebelumnya Om minta maaf kalau permintaan Om yang satu ini sangat kelewatan.” Om Andrew duduk sedangkan Alya terdiam dan hanya berdiri di tepi gajebo. “Semenjak kehadiranmu di sini, Dewi sangat senang sekali dan ia berbeda sekali dari hari-hari sebelum bertemu denganmu. Bisakan Alya tinggal bersama kami?” Tanya Om Andrew.
“Em.” Alya mikir. “maaf Om, kayaknya itu susah buat saya lakukan.”
“Seharusnya Om yang minta maaf. Saya mengerti.”
“Kenapa Om gak katakan yang sejujurnya tesama Tante Dewi?”
“Kalau mama Ratdit tidak punya penyakit jantung, Om mau mengatakannya.”
Lewat tengah hari Tante Dewi sedang tidur siang dan ini saatnya yang tepat untuk Alya pergi. Saat ia mau keluar dari pintu utama, ia berpapasan dengan Radit yang dergandengan dengan seorang perempuan. Sejujurnya Alya tak pernah sekalipun bertemu dengan orang yang namanya Ria. Karena Ria itu teman Radit dari SD sampai SMP sedangkan SMA-nya berbeda. Cinta pertama Radit adalah Ria
Tapi cinta itu cuma bertepuk sebelah tangan, justru keegoisan Radit, Ria terpaksa menjadi pacarnya itu juga putus nyabung melulu.
“Hay Radit?” sapa Alya dengan gaya khasnya. “hay, ini ya yang namanya Ria?” tebak Alya.
“Pegi sana.” Usir Radit.
“Kasar banget sih!” Alya melihat Ria bengong melihat Alya. ”Ria, jangan melamun.”
“Dit, bukannya Adik loe sudah meninggal?” Tanya Ria.
“Udah loe gak usah mikirin, dia cuma arwah adik gue aja.” Jawab Radit ngasal. Radit masuk kerumah dan meninggalkan Ria bersama Alya di teras.
“Sebenarnya kamu siapa? Kok mirip ya dengan Sera!” Tanya Ria. Alya tersenyum.
“Kenalin nama gue Alya. Gue teman SMA Radit dulu. Ceritanya
panjang, yaa… masi berhubungan dengan Sera.”
“Oh, begitu.”
Alya pregi dan Ria menanyakan sesuatu sama Radit.
"Dit, loe kok kasar sih sama Alya?"
"Gue gak sudi di sukain sama cewek itu! karena dia mirip sama
ade gue!"
"Ya ampun pede banget sih loe!"
***
Saat makan malam Radit tidak betah dengan tindakan Mamanya yang begitu peduli dengan Alya. Mereka bertiga membahas itu semua sampai akhirnya Radit membuka rahasia kalau Alya itu bukanlah Sera.
Radit menunjukkan semua bukti. Tak lama kemudian Mamanya tak sanggup lagi berdebat, ia pun pergi ke kamarnya. Sampai besok sore, Mamanya tidak keluar kamar dan seharian ia tidak makan. Om Andrew dan Radit sudah kehabisan akal untuk membujuk Mamanya keluar dari kamar.
"Mamamu kan dekat sekali dengan Alya. Kenapa tidak kamu hubungi saja dia untuk merayu mamamu biar keluar?” usul Om Andrew.
“Sampai kapanpun Radit gak akan pernah minta bantuan sama
orang itu.” Jawab Radit.
“Kamu kenapa jahat sekali sama Alya! Emangnya apa salah dia
sama kamu sampai-sampai kamu benci dengan dia!” Radit Cuma bisa diam. “Papa kasi tau kamu Dit, pilih: Mama kamu sakit atau Mama kamu baik saja karna ada Alya.”
Tak lama kemudian Radit membuka buku tahunannya untuk mencari nomer HP Alya. Setelah ketemu ia langung memencet nomer Alya di ponselnya. Awalnya ia pesimis karena takutnya Alya sudah ganti nomer tapi ternyata Alya masi mrnggunakan nomernya. Setelah Radit menghubungi Alya, tak lama kemudian Alya datang dan membujuk Tante Dewi keluar. Tidak butuh waktu lama untuk membujuknya. Ternyata tidak apa-apa. Akhirnya Tante Dewi mau makan tapi ada syaratnya yaitu di suapin oleh Alya. Selesai makan, Tante Dewi mengatakan sesuatu.
“Alya.” Panggil Tante Dewi.
Alya pun kaget mendengarnya.
“Walau kamu bukan anak dari rahim tante, tapi Tuhan telah mengirimkan kamu sama tante. Maka dari itu Tante berterimakasih. hari-hari tante berwarna kelabu saat Sera pergi mendahulukan tante, tapi semenjak Tante bertemu dengan kamu, hidup Tante menjadi lebih cerah. Tapi kini Tante sudah mengikhlaskan kepergian Sera. Tapi apa kamu mau tetap menjadi anak Tante?”
“Kalau itu membuat hati Tante senang kenapa tenggak?” Alya memberikan senyuman terbaiknya.
“Sebelum Tante menyusul Sera, Tante mau minta sesuatu!”
Semuanya seperti ingin mendengar. “kamu mau ya nikah dengan Radit!” Tante Dewi tersenyum puas.
Sedangkan Alya hanya diam mematung, Radit menelan ludahnya seperti menelan sebuah benda yang banyak durinya dan Om Andrew menyetujui.
***
“Kak, kakak percayakan dengan Alya. Kalau Alya past bisa menyelesaikan masalah ini. Tapi kakak harus bantu Alya supaya Alya yakin bisa menjalaninya.”
“Apa” Tanya Arlva.
“Alya Cuma butuh dari kakak kepercayaan. Setelah ini aku akan
mendengarkan semua permintaan kakak. Oke.”
“Aku akan memberikan kepercayaan itu padamu Ya. Tapi janji ya?”
“Oke bos. Aku sayang sekali sama kakak.” Tak lama kemudian
Alya mendapat telpon dari dari Radit kalau Mamanya terkena serangan jantung dan sekarang di rawat di rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit.
“Om, bagaimana keadaan Tante?” Tanya Alya.
“Kritis Al, Om harap kamu bisa menemani Mama Radit.” Alya Cuma tersenyum.
Keadaan ini sanggat menegangkan. Tak lama kemudian Tante Dewi di pindahkan ke ruang ICU. Hampir tengah malam, Om Andrew pulang untuk mengambil baju-baju untuk Tante Dewi. Sekarang tinggal Alya dan Radit. Lagi-lagi Alya berdehem.
“Hey. Inikan yang loe harapkan dari dulu! Kamu mencoba meracuni pikiran nyokap gue kemudian loe minta ia untuk jodohkan
kita. Bilang aja kalau loe itu dari dulu suka sama gue. Loe pikir gue akan jatuh cinta sama loe. Asal loe tau gue itu muak banget ngeliat tampang loe itu, sok suci, sok polos, tapi apa dalam nya? Ternyata tak lebih dari sampah!” puas Radit mengatai Alya, tamparan keras medarat di pipi kiri radit hingga terjiplak.
“Gue udah cukup sabar ngadepin orang kaya loe. Gue berdoa
semoga aja tuhan kasi petunjuk sama loe, dan loe bisa melihat dengan mata hati loe sendiri. Terimakasih dengan segala apa yang telah loe perbuat ke gue.”
“Mulai sekarang gak ada kata-kata kita di jodohin. Mulai sekarang juga loe jagan pernah sekali-kali nginjak rumah gue terlebih-lebih nemuin nyokap gue. Gue gak akan pernah sudi untuk nerima loe lagi.
Sekarang pergi dari hadapan gue. Mau tunggu apa lagi? Pergi!” Rait
mengusirr Alya dengan kasar.
“Oke. Suatu hari nanti loe akan merasakan akibatnya atas semua ulah lo ke gue. Gue gak akan pernah muncul di hadapan loe lagi. Urusan kita selesai.” Alya mengambil tasnya kemudian pergi. Saat berjalan menuju lift, ternyata Om Andrew mendengar semua pembicaraan mereka.
***
Bertahun-tahun Radit mencari Alya sampai ke pernjuru dunia tapi tidak di temuakan. Mungkin ganjaran atas perbuatannya telah telihat setelah Alya pergi menghilang. Alya dan Alva baru keluar dari klinik di daerah Alva berasal. Mereka baru mau menaiki motornya tapi tiba-tiba ada sosok yang tidak asing melambai kea rah Alya. Dalam sebuah café kecil sudut kota Alya sedang berbicara dengan seseorang.
“Kenapa loe menemui gue? Bukannya loe nyuruh gue pergi dari hadapan loe?”
“Gue baru sadar semenjak loe pergi menghilang beberapa tahun yang lalu. Sehari loe pergi nyokap meninggal dan semenjak itu gue mencari loe sampai ke pelosok tapi kini aku menemui loe di sini.” Ucap Radit.
“Katakan saja apa mau gue untuk menemui ?” Tanya Alya.
“Aku menemumu Cuma untuk menyampaikan dua hal. Ha pertama, aku minta maaf kepadamu dengan sikap gue yang dulu terlalu kasar. Dan yang kedua, bisakah kau memenuhi permintaan terakhir nyokap gue, dan kita mulai dari awal?”
“Gue udah memeaafkan loe sebelum loe minta maaf ke gue. Tapi untuk hal ke dua sepertinya gue gak bisa memenuhinya.
Sebenarnya, Setelah loe ngusir gue, besok paginya gue datang menemui nyokap loe untuk yang terakhir kalinya. Tadinya gue Cuma ingin pamitan tapi tiba-taiba dia sadar dan aku katakana kepadanya kalau gue gak bisa memenuhi permintaannya. Sebab ada factor lain dan ia mengizikan itu. Gue langsung pergi. Terdengar kabar bahwa sorenya ia telah tiada. Gue pun menyaksikan penguburan dari jarak jauh. Jadi menurut gue perjodohan itu tidak berlaku.”
“Alya sudah mulai sore.”Alva datang dari luar. Alya berdiri di susul oleh Radit. “Oiya Kak, kenalin ini Radit. Radit kenalin ini Alvai suami gue.” Mereka saling berjabat tangan.“Oia. Aku doakan semoga loe dapat perempuan lebih baik dari gue.” Tatapan Rdit kosong dan hampa. Radithanya mengangguk.
“Aku masi ada urusan lain. Salam buat Ayahmu. Aku duluan. Yuk kak!” Alya dan Ardhi pergi keluar dari café tersebut. Radit hanya duduk terdiam menagisi apa yang telah terjadi. Menatap penuh dalam dari balik kaca café kearah Alya dan Ardhi yang sedang meluncur dengan motor keluar area parkir café tersebut.
SEX-kian
Baca selengkapnya »