Oleh : H. M. Kurniawan
Aku berlari-lari tergesa-gesa menuju apartemenku. Ada yang ingin kutemui disana secepatnya, tadi, Tino meneleponku di katore membawa berita bahwa keadaan nenek sedang memburuk. Dia kejang-kejang dengan nafas terengah-engah. Aku sudah tak sabar ingin menemuinya. Nenek yag telah menjagaku semenjak kedua Orangtuaku bercerai. Aku dan tino, adikku memilih tinggal bersama nenek di apartemennya daripada ikut mereka berdua. Neneklah yang mmbesarkanku, mendidikku dan merawatku. Aku begitu merasa berharga jika ada nenek, karena nenek selalu memujiku setiap waktu. Nenek begitu sayang padaku. Begitulah aku, sayang pada nenek. Dulu aku begitu manja sekali di hadapan orangtuaku, kini aku sedikit berubah. Abisa mandiri dan kini aku memilih untuk serius di karierku.
Aku tiba di pintu masuk apartemen. Aku melihat sekitar 20 orang dihadapankau tertuju pada satu arah memandangnya. Ada apa gerangan? Aku langsung menerobos masuk disela-sela kerumunan orang-orang tadi, nampak tubuh nenek terbujur dengan nafas tersengal.
“Nenek!” teriakku tak rela. Aku mendekatinya dengan penuh air mata membasahi pipiku dengan seketika.
Aku berlutut disamping nenek dan menggenggam tangan nenek erat-erat. Kurasakan dingin ditangannya, sedingin salju. Dingin yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aajaibnya, nenek berhenti tersengal ketika melihat wajahku.
“Jagalah baik-baik dirimu, ara. Kamu harus tetap hidup. Waspadalah pada orang disekelilingmu.” Pesan nenek.
Aku tak menghiraukan kata-kata nenek. Aku masih terus mengucurkan air mata yang terbendung kiranya. Aku menggeleng-nggelengkan kepala perlahan, seolah aku tak rela melihat keadaan nenek yang seperti ini. Tak berapa lamapun nenek memejamkan matanya untuk selamanya. Semakin deraslah air mata yang mengalir daari mataku.
“Nenek ?!!” tanyaku tak percaya ku goyang-goyanggoyangkan tubuh nenek terutama kepala. Dia sudah tak dapat menjawabku. Dia pucat sekali, wajahnya putihe kebiruan. Tak seperti biasanya yang berwarna coklat sawo matang. Air mataku pun berderai deras membasahi pipiku yang semu merah jambu yang tak kunjung berhenti. Karena aku harus kehilangan orang yang paling berharaga dalam hidupku. Nenek telah meninggalkanku, meninggalkan kita semu manuju kesana, ke alam yang berbeda. Rasanya tak rela melepas kepergian nenek saat ini. Nenek yang telah mengasuhku sejak aku masih kelas 6 SD dan Tino masih berumur 3 tahun. Tak terasa, nenek telah lama menggantikan kewajiban kedua oangtuaku selama 12 tahun ini. Cukup lama memang. Aku yang masih lugu mungil, menggemaskan yang rtambutnya selalu ku kucir dua kini telah berevolusi menjadi besar, menjadi dewasa, berpendidikan, mempunyai pekerjaan, dan meniti hidup sebagai wanita nenek.
Itula nenek, sealu terbalut senyum di rautw mukanya. Tak pernah terlihat keluh kesah di mimikya. Selalu sabar dalam menghadapi kesulitan hidupo. Membiayai sekolahku hingga tamamt SMA dan kini aku masuk sebagai pengajar disalah satu bimbingan belajar ternama.
Dan kini aku harus terpisah dengannya. Terasa bagiku untuk meninggalakannya. Melalui hari-hari sunyi sendiri tanpa lembut belaiannya. Aku yang selalu bercanda dengannya, kini hanya mencengkam. Aku merasa sendiri di dunia ini. Walaupun masih ada Tino, tapi dia selalu sibuk dengan teman-temannya. Aku pun juga sibuk dengan pekerjaanku. Waktu aku pulang nanti pasti tak ada orang dirumah. Setelah aku capek aku pasti harus bersih-bersih ini itu dirumah. Pasti nanti tak ada lagi orang yang menyajikan segelas jahe madu setelah akupulang. Hhh! Andaikan nene masih ada. Makasih nek, telah membantu aku …..
********
Sore itu aku masih melamun dikursi teras apartemenku. Pandanganku tak tentu arah. Akau kacau sekali hari ini . aku tak pernah membayangkan sebelumnya kejadian pahijt seperti ini. Kenapa aku begitu terlarut dengan peristiwa ini? Aku juga tidak mengerti. Aku masih bertanya-tanya kenapa nenek harus pergi secepatnya. Memang dia sudah tua, namun aku tak berpikiran seperti itu. Menurutku, nenek masih perlu hidup dan hidup bahagia karena aku. Orang-orang yang lalu lalang keluar masuk ke apartemenku tiak aku hiraukan. Aku sibuk dengan lamunanku. Tiba-tiba aku teringat dengan kata-kata terakhir yang diucapkan nenek.
“Waspadalah pada orang disekelilingmu.” Apa maksudnya? Aku tidak mengerti.
“Cepat mendi sana. Kaburu dingin.” Tiba-tiba bibi Lisna membagukan lamunanku.
“Jangan melamu terus.”
“Ya bi,” spontan saja aku bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri.
Hanya bibi saja anak nenek yang menyaksikan kematian nenek. Sedangkan papa hanya menelpon saja. Bibi isna telah ditinggal paman dan anknya. Mereka telah bercerai setelah papa dan mama bercerai. Bibi Lisna datang dua hari sebelum kematan nenek. Dia datang karena di PHK oleh bosnya. Dia tertuduh mencuri uang sampai puluhan juta. Dasar bibi selalu bersikap manis dihadapanku. Setelah kuselidiki ternyata dia sangat dibenci oleh karyawan lain karena sifatnya yang egois dn keras kepala.
********
Aku bangun pagi ini dengan badan yang agak malas. Rasanya tak ada gairah lagi untuk hidup. Aku bergegas ke kamar mandi mencuci muka da mandi. Aku terlihat begitu fresh setelah terkena guyuran air yang terasa dingin. Aku memang belajar untuk mandiri dan tidak manja. Setelah itu aku langsung ke kamarku untuk menghiasi diri. Yang namanya wanita karier aku hanya mengenakan Bedak dan Lipstik merah muda saja untuk kosmetiku.
Aku keluar dari kamar dan hendak membangunkan Tino yang bisanya jam 06.00 masih terhanyut dalam mimpi. Aku sampai di kamar yang pintunya bertuliskan BOY’S ROOM! JANGAN BERISIK aku ketuk pintu itu.
“Tino, bangunlah! Sudah siang nih. Nanti kamu telat!” kataku memanggil. Tak ada jawaban teralontar dari arah dalam kamr. Aku buka pintu perlahan.
Kulihat di pembaringan teronggoh tubuh Tino yang masih terbalut selimut dengan rapat. Aku berjalan mendekat.
“Tino, bangunlah! Sudah siang nih. Nanti kamu terlambat ke Sekolah! Kamu akan dimarahi Pak Gur nanti! Kamu distrap dan kamu gak boleh masuk Sekolah lagi loh!” kataku cerewet.
Namun Tino tak bergeming sedikitpun. Aku mulai kesal karena aku merasa tak ditanggapi olehya. Aku guncang-guncangkan tubuh yang masih terbalut selimut denga rapat itu sambil berteriak-teriak.
“Tino, bangun!”
Aku singkap selimut tebal itu. Mataku terbelalak, jantungku kaget mendadak tak kutemui sesosok wajah Tino disana. Yang ada maah guling yanga tadi menyerupai tubuh Tio. Kemana Tino ini? Sudah bangunkah? Tak seperti biasanya ia bangun pagi-pagi. Tumben aja gitu. Aku lihat sekeliling kamar. Oh! Barang-barang kesayanganya hilang. Ada jam beker, bola, dan foto keluargaku. Kemana anak ini? Ku datangi lemari pakaianya. Apakah Tino sudah memakai seragamya dan pergi ke Sekolah? Aku buka lemari itu. Hah …! Lemaripun kosong tak ada sesuatu pun disana. Kemana ini anak pergi tak bilang-bilang bikin cemas saja.
Lalu aku coba hubungi dia dengan Handphone Motorola ku. Tetapi nomornya tidak aktif. Aku berfikir sejenak. Mungkin dia pergi ke rumah papa atau mama, aku hubungimewreka. Tetapi tak ad jawaban yang memuaskan. Aku muli khawatir, cemas dan gelisah. Aku lirik jam tanganku sudah pukul delapan. Ahh! Aku terlambat. Buru-buru-buru aku merapikan dandananku dengan bantuan cermin Tino. Lalu aku berlari mengambil tas di kamarku dan pergi keluar rumah tanpa izin bibi, entah bibi ada atau tidak. Aku melupakan sarapanku hari ini. Yang ingin kutuju Cuma satu yaitu cepat berangkat. Biarlah tidak sarapan, nanti kan bisa sarapan dikantor.
Aku langsung berlari ke pinggir jalan untuk menyetop Taksi. Kupandangi alan sekitar. Memang, disana belum banyak gedung-gedung yang memadati kota ini. Hanya rumah-rumah kecil dan warung-warung kaki lima. Aku berharap semoga disana Tino. Namun sampai di tempat kerjaku Tino pun tak juga kutemui. Aku langsung masuk ke kantorku setelah kusapa orang-orang yang kutemui. Aku mengulurkan badanku melepas gerah setelah sampai di kursi kerjaku. Aku termeung sejenak. Tiba-tiba dering ponselku membangunkan lamunanku. Ku terima panggilan itu. Ternyata Tino yang memanggilku dengan telepon umum.
“Kamu dimana?” tanyaku penasaran campur cemas.
“Aku ada di jalan Anggrek.” Kata seorang diseberang sana yang ternyata Tino
“Ngapain kamu pergi tanpa beritahu kakak?”
“Aku takut kakak melarangku.”
“Tapi kalau begini caranya kakak gak bisa bekerja!”
“Iya maafkan aku kak. Sebenarnya aku pergi tak ingin jadi korban bibi Lisna.” Katanya merana.
“Memangnya kenapa dengan bibi Lisna?” tanyaku penasaran.
“Dia telah membunuh nenek dengan memasukkan semacam racun kedalam air the nenek.”
“Yang bener?” tanyaku tak percaya
“Iya, dia juga tahu kalau aku tahu apa yang dilakukannya sama nenek. Dengan begitu cepat ataupun lambat akupun akan dibunuhya karena takut kelkuannya terbongkar.’ Kabar Tino.
“Nggak mungkin kataku lirih
“Benar. Dia pasti sedang mencariku.” Kata Tino meyakinkanku. ‘Dia pasti telah mencariku ke rumah papa atau mama. Tapi sayang aku nggak pergi kesana karena aku tak begitu mudah ditemukan.” Kata Tino “Bibi Lisna ..?”
“Halo … Tino?” tanyaku karena telpon tiba-tiba tak digunakan Tino. Aku panik ketika telpon yang masih tersmbung itu masih kudengar lamat-lamat suara Tino yang sepertinya bertemu bibi Lisna meminta aku untuk menolongnya.
Aku keluar dari tempat bangunan kerjaku. Setelah ngomong ini itu, akirnya aku dipinjami mobil Jeep oleh satpam yang setengah masih menyangka kalau aku membual. Aku langsung mengendalika eep itu dengan kecepatan tinggi menuju jalan Anggrek. Aku tak sabar ingin bertemu Tino. Setidaknya aku masih bisa melihat wajahnya sebelum dia pergi jauh. Karena aku yakin, seseorang yang dipegang bibi Lisna pasti tak selamat. Namun, aku masih berharap semoga hal itu tidak terjadi pada Tino. Tiba-tiba aku ingat kata-kata terakhir nenek. “Jagalah baik-baik dirimu, Ara. Kamu harus tetap hidup. Waspadalah pada oran sekelilingmu.” Kalau benar nenek tahu bibi Lisna membunuhnya. Seharusnya dia bilang “Lisna telah memunuhku.” Namun kata itu tak terucap meskipun masih sempat dilakukan. Nenek mungkin tak mau anaknya masuk penjara atau mungkin dia tidak tahu.
Sebentar kemudian, aku pun telah memasuki wilayah Tino, Jalan Anggrek aku berharap semoga Tino ada disana. Dan ternyata benar, ia bersama seorang ibu yang tak lain adalah bibi Lisna. Tino berada dalam keadaan pingsan. Aku mempercepat laju mobiku, aku tak sadar ternyata mobil itu remnya blong. Bibi Lisna yang tak menyadari kedatanganku pu terserempet sedangkan Tino terpental. Sebelum akhirnya aku belokkan mobilku hingga mau menabrak pohon beringin besar. Nafasku terengah-engah. Kulihat diluar banyak sekali orang-orang berdatangan menolong bibi Lisna yang sudah sekarat karena kecelakaan tadi. Sementara tino tersadar dari pingsannya. Ia menangis ketika melihat aku. Tak begitu kubayangkan sebelumya. Tiba-tiba ada seseorang berlumuran darah masuk mobilku tetapi tak kuhiraukan. Aku masih menatap Tino yang masih menangis. Mungkin dia menangisi bibinya yang telah pergi. Sementara dia tak melihatku di mobil Jeep yang kunaiki ini.
Tiba-tiba bulir air mataku jatuh membasahi pipiku yang semu merah jambu. Aku tahu apa yang dirasakan Tino sekarang. Pasti dia sedih melihat orang disekitarnya telah pergi. Dia pergi menjauh beserta orang-orang yang berdatangan tadi. Aku menoleh orang yang berlumuran darah tadi dialah aku.
TAMAT
Baca selengkapnya »



