Oleh : A. E. Yuniasari
Senja semakin kelam, masih ada saja yang kini keliaran disisi-sisi jalan. Termasuk gadis yang kini berdiri di Halte paling pojok dengan penuh kekesalan, sambil kadang mengupat dalam hati. Waajahnya yang biasa lugu kini dipenuhi rasa risau. Matanya merah dan penuh amarah, sesekali dia meneteskan air mata. Entah karena takut kemalaman atau takut deras air hujan. Dia menatap jalan yang tadi dia lewati. Dia adalah gadis SMU yang baru saja mengenal cinta. Dia gadis yang ceria dan kini berubah drastis gara-gara cinta. Dia adalah Clara. Gadis yang biasa dipanggil Rara. Gadis yang baru saja merasakan pahitnya percintaan. Masih teringat dalam benaknya saat kekasihnya berkata :
“Sudah sampai disini saja.”
Ach … kini air matanya terjatuh melebihi derasnya air hujan. Matnya menatap kembali jalan sepi itu. Berusaha mengingat kenangan yang baru saja dialaminya.
“Aku udah lakuin apa saja buat kamu Alex, tapi apa yang udah kamu kasih ke aku? Pengkhianatan ini?”
“Maafin aku Ra, aku gak bisa nionggalin dia, tapi aku juga gak bisa ninggalin kamu”
“Segampang itu? Kamu harus milih aku atau dia?”
“Tapi, Ra!!”
“Gak, ada tapi-tapian.” Potong Clara sambil mengalihkan muka.
“Ya udah Ra … kita sudah sampai disini aja.’
Clara seolah tidak percaya dengan yang diucapin Alex. Dia kembali memalingkan wajah menatap Alex. Dia menangis.…
“Baik Lex, makasih buat semua, maksih buat pengkhianatan kamu, makasih dah nyakitin aku, mulai sekarang aku gak akan ganggu hidup kamu lagi, semoga kamu bahagia.”
“Ach …” dia terpejam dan …
Salah seorang temannya bernama Marvel menolongnya yang tengah tergeletak di jalan itu lalu membawanya ke kos-kosan. Teman kosnya mencoba menyadarkan Clara. Termasuk IMay dan Endro sangat khawatur dengannya.
“Ra…. Rara bangun dong, lu kenapa?”
Perlahan Rara membuka matanya. Dan merasakan pusing yang sangat hebat. Dia samax sekali gak ingat keadaan yang baru saja menimpanya, tapi yang dia ingat Cuma wajah Alex yang baru saja menyakitinya. Sesaat setelah semua pergi, May berusaha mencari tahu penyebaba Rara pingsan. Tetapi Rara hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Berkali-kali si May bertanya pada Rara, tetapi Rara hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sampai akhirnya Rara berkata kalau dia tidak bisa bercerita kepada May sekarang. Tanpa disengaja May berkata kalau semua ini gara-gara Alex, tapi kali ini Rara gak menggelengkan ataupun mengeluarkan suara. Dia malah mengeluarkan air mata, masih terasa banget sakit yang luar biuasa yang baru dialaminya.
“Ra, kok lu nangis? Alex nyakitin lu lagi? Dah berapa kali Ra gue bilang ke elu. Alex gak baik buat elu, dia tu Playboy.”
Rara gak menjawab, masih semakin menangis dan memeluk May. Sesaat kemudian May mencoba menenangkan Rara dan memberinya minum. Rara menyahut gelas yang disodorkan May, dan minum. Setelah tenang May dan Rara bersiap untuk mimpi indah. Tapi gak utuk Rara, dia masih belum bisa menutup matanya, dia takut jika dalam mimpinya akan bertemu dengan alex. Tapi dengan segala macam usaha akhirnya Rara terlelap hingga esok pagi …
“Rara, ke Kantin yuk? Gue laper nih…”
“Gak ah May, gue males ke Kantin.”
May jadi bingung dengan sikap Rara yang aneh dan males untuk ngapa-ngapain. Semenjak Rara putus sama Alex dua minggu yang lalu.
“May, gue pengen sendiri, bisa nggak lu ninggalin gue?”
“Ya udah gue ke kantin dulu, met menikmati rasa sakit lu!”
Rara menatap kepergian May, ia sejak putus dari Alex, Rara jadi sering diam. Dia sama sekali tak mau untuk bangkit. Iseng-iseng Rara keluar kelas. Dia lihat dibawah ada pertandingan Basket. Rara berfikir sejenak kemudian melangkahkan kakinya ke lapangan basket untuk melihat pertandingan antar Sekolah. Ditepian lapangan basket Rara bertemu dengan Imel yang dah dari tadi pagi nongkrong dilapangan basket, dan saat dia lagi mau duduk tiba aja
“Plaak ….”
“Rara …”
Semua orang mengerumuni Rara yang pingsan seketika. Karena kepalanya ketimpuk bola basket. Semuanya terlihat panik dan mengangkat Rara ke UKS.
Ada seorang cowok yang lumayan cakep menghampiri Rara yang sedang pingsan. Dia adalah pemain basket yang gak sengaja melempar bola basket ke kepala Rara, jelas aja Imel langsung mencak-mencak waktu cowok itu datang. Cowok itu sedikit kaget waktu Imel bilang tewas, kayaknya dia membayangkan sesuatu yang menrikan. Dan tampa basa-basi cowok itu langsung membopong Rara ke UKS.
“Rara …” teriak May waktu nyampai UKS.
“May lu ngapain sih teriak-teriak?” protes Imel.
“Gimana keadaan Rara?” tanya Marvel ikut panik
“Iya gimana? Endro ikut-ikutan
Saat mereka lagi sibuk debat, tiba-tiba cowok itu ngucapi sesuatu.
“Kamu dah sadar?
“Kamu siapa?” tanya Rara
“Kenalin gue Bryan.’
Sesaat Rara cuma diam dan masih aja linglung. Rara yang baru saja sadar, makin bingung ngelihat temen-temennya ada di UKS.
Kemudian Bryan angkat bicara, dan ngejelasin kejadian itu kepada Rara. Kemudian Rara berterima kasih kepada Bryan. Sesaat May menyarankan kalau Rara harus pulang. Dan Bryan langsung menawarkan diri. Lalu temannya menyuruh Bryan untuk menjaga Rara dan mengantarnya sampai tujuan.
Untuk kedua kalinya Bryan meminta maaf ke Rara dan mereka pu sampai di Kos. Bryan mencoba memberikan perhatian pada Rara. Dan menyuruh untuk masuk lalu beristirahat. Dengan ragu-ragu Bryan meminta nomor Hp Rara, sejenak Rara berfikir, dia kelihatan masih ragu untuk ngasih nomor Hp, dia kembeli keingat waktu Alex minta nomor Hp kepadanya..
“Ra … kok lu diam, kalau gak boleh gak papa kok.”
“Oh boleh,” Rara menyebutkan angka dalam nomor Hp nya
“Thanks ya!”
Rara tersenyum kemudian masuk ke dalam kosnya yang xsepi dan tidur hingga teman-temannya kembali pulang.
Sore yang cerah, awan bertahta megah. Seolah menunjukkan keceriaan seorang cowok yang kini tengah berdiri didepan pintu rumah kos dan mengetuk pintunya.
“Permisi”
Krek … pintu terbuka
“Nyari siapa?” tanya Endro ketus.
“mm … Rara ada?”
Endro mengamati baik-baik penampilan cowok itu.
“Da perlu apa nyariin Rara?” Endro balik nanya.
“Siapa Ndro?” tanya May.
Bryan tersenyum pada May.
“Oh Bryan, ayo masuk, nyari Rara ya?”
“Iya”
“Rara ada di kamar kok, bentar gue panggilin, ayo duduk dulu.”
Bryan duduk dan melirik endro, dia merasa menang karena akhirnya dia bisa ketemu sama Rara.
“Bryan??” dah lama??” sapa Rara
“Belum kok, baru aja.”
“Ada apa nyariin gue?”
“Lu ada acara gak? Gue pingin ajak lu jalan-jalan aja, mumpung cuacanya mendukung.”
Seperti biasa, Rara kembali berfikir dengan ajakan cowok keren yang ada dihadapanya. Da setelah berfikir Rarapun mengangguk.
Mereka berdua akhirnya pergi ke suatu tempat rumah makan yang tidak jauh dari tempat kos.
Mereka berdua tertawa-tawa dan bercanda-canda sambil makan makanan yang mereka pesan. Tiba-tiba aja tangan Bryan menyentuh tangan Rara. Rara sedikit keki dengan keadaan in. dia merasa jantungnya berdebar.
“Bryan kok lu liatin gue kayak gitu sih?”
“Mang kenapa? Aku pingin lihat wajah cantik kamu.”
“Gak apa-apa.”
Sejenak mereka diam, tiba-tiba aja Bryan memegang kedua tangan Rara.
“Ra, sejak pertama gue ketemu lu, gue ngrasa ada yang beda. Lu dah ngalihin perhatian gue, jujur Ra, gue sayang ma lu?”
“Bryan lu ngomong apaan sih?” gak lucu tahu?”
“Apa dengan wajah yang serius ini kamu masih bilang ini lelucon?”
“Gue serius Ra? Gue sayang ma lu, gue dah jatuh cinta ma lu.”
Rara terdiam
“Kasih gue jawaban Ra?”
Rara tak membuka mulutnya
“Ya udah, kalau kamu gak mau kasih jawaban gue harap lu mau jawab besok.”
Rara mengangguk dan Bryan tersenyum
“Bryan dah malam, pulang yuk?”
Dan akhirnya merekapu pulang denagn suasana hati yang nggak karuan. Dalam perjalanan mereka menikmati lamunannya masing-masing.
Malam itu Clara duduk diruang tamu sendiri sambil nonton TV. Dan terlihat Imel yang keluar dari kamar tidur langsung nyamperin Clara. Mereka berdua asyik lihat acara di TV. Dan akhirnya Clara menceritakan kepada Imel tentang perasaanya ketika Bryan nyatain cintanya kepada Clara dan meminta pendpat imel tentang jawaban yang harus diberikan ke Brayan.
“Ra, gue saranin mendingan lu terima aja cintanya Bryan, dia pasti gantii Alex di hati lu, di tuh cowok baik-baik. Selai itu berasal dari keluarga terhormat.
“Iya, tapi gue gak punya perasaan apa-apa sama dia.”
“Kenapa Ra? Dia tuh kurang apa sih? Kamu kok egois sih ra, kamu gak ngasih kesempatan kep[ada orang lain.” Tanya Mey heran.
Rara terdiam, dia gak tahu harus jawab apa.
“Ra, buka mata lu lebar-lebar, lu aja dah gak ada tempat dihatinya Alex, lu tuh dibuang mentah-mentah ma dia. Kenapa lu masih mikirin dia?”
“Gue gak bisa lupain dia May.”
“Kenapa gak bisa?
“May, Alex tu dah bener-bener terpatri vdalam hatu gue. Gue sayang banget sama dia, Alex dah aku banyak hal, dia yang ajari gue cinta, pengertia, kasih sayang dan …”
“Dan pengkhianatan maksud lu ?” potong May
“Dia sekarang dah gak butuh lu ra, dah ada cewek lain yang ada disamping dia.”
Kini Rara dah gak kuasa membantah, dia nangis sejadi-jadinya.
Setelah itu Endro mendengar Rara menangis dan memarahi Imay.
May, lu jangan kasar gitu donk sama Rara!”
“Biarin Ndro, biar dia tuh sadar, nggak pantes nangisin cowok brengsek itu.”
“ Gue butuh kepastian dan jawaban dari lu Ra? Gue mohon apapu jawaban lu, gue terima kok.”
Rara menatap binar mata Bryan. Terlihat ketulusan didalam matanya. Rara menunduk dan berbicara dalam hati.
“Bener yang May katakan. Gue gak boleh mikirin Alex terus. Mungkin dengan nrima Bryan gue bisa lupain Alex.”
“Bryan aku juga sayang sama kamu.”
Tiba-tiba aja Bryan memeluk Rara. Tapi Rara ngrasa sesuatu yang beda, dia ngrasa gak menginginkan dipeluk oleh Bryan.
“Ya tuhan, apa yang dah aku katakan, kenapa tadi aku nrima Bryan.”
Tin…. Tin…. Tin…. Terdengar suara bklakson didepan kos.
“Tuh Ra, pangeran lu dah datang, buruan samperin.”
“Apaan soih May? Biasa aja deh. “ jawab Rara
Rara mengambil tas dan langsung menghampiri Bryan.
“Kamu cantik banget hari ini Ra?”
“Makasih” tersenyum kecut.
“BErangkat yuk?”
Rara mengangguk.
Rara masih megaduk Ice Cappucino yang baru dibelinya, ditempat duduk seperti biasa didalam kantikn inilah Rara dan teman-temannya biasa kumpul. Tapi kali ini Cuma ada Rara dan May aja yang asyik ngobrol.
“Lu kenapa sih Ra? Gue perhatiin dah 3 hari ini lu murung melulu,”
“Gue salah gak sih, jadian Bryan pelampiasan?”
“Apa?”
“Gue bener-bener gak bisa lupain Alex. Meski gue jadian ma seribu cowok pun, hati gue masih ada sama Alex. Gue gak bisa mencintai cowok seperti gue mencintai Alex. Gue gak bisa May?”
“Terus lu mau apa?”
“Gue pingin petus aja sama Bryan!!”
“Apaa …! Gak Ra, ue gak setuju, lu gak kasihan ma Bryan? Kalian tuh baru jadian 3 hari Ra? Gue gak ngerti sama jalan pikiran lu.”
“May, gue tuh juga kasihan ma Bryan, kalau gue lanjutin hubungn ni gua ngrasa sakit sendiri, kalau harus memaksa perasaan gue untuk mewncintai Bryan.”
“Ya tapi ……”
“Lu gak ngerti apa yang gue rasain May, sakit banget …!
Rara menangis, May kebingungan harus kayak gimana, dan akhirnya May ngasih saran ke Rara suruh jalanin hubungan selama 1 minggu. Kalau Rara bener-bener gak bisa, ya udah mendingan putus aja. Rara hanya mengangguk sambil menangis dalam pelukan sahabatnya.
Rek…. Rek…. Rek….
Terdengar sobekan-sobekan kertas dari kamar itu, ya itulah kamar clara gadis mungil itu kini sedng di depa meja belajarnya sambil menyobek foto kenangan saat bersama Alex. Tetes demi tetes air mata terus mengalir dipipinya. Dia ingat waktu Alex nyatain janjinya ke Rara untuk selalu bersama-sama. Sejenak Rara tersenyum, mengingat semua itu. Tapi tiba-tiba aja dia ingat waktu Alex mengakhiri cintanya.
“Aku gak bisa ninggalin dia Ra!”
“Aku gak bisa memilih kamu.”
“Kita sampai disini aja…”
sampai disini aja …
sampai disini aja …
Rara terus menagisi rasa sakitnya.
Minggu pagi yang cerah, sosok cowok ganteng itu kini berada didepan cermin, beruaha menata penampilannya agar terlihat menarik dan pacarnya akan semakin mencintainya, dengan mantap dia menstarter motor dan bergegas menuju kos Musik, tempat dimana Rara tinggal. Dan tanpa ragu dia mengetuk pintu itu.
“Permisi tante, Rara ada?”
“Rara ada Bryan, ayo masuk.”
Dengan malas Rara beranjak dari tempat tidurnya dan keluar menemui Bryan.
“Da apa Yan?? Pagi-pagi kok dah kesini?”
“Aku kangen sama kamu, jalan-jalan yuk?”
“Males ach …” jawab Rara ketus
Bryan sedikit kecewa dengan jawaban Rara, tapi dia masih berusaha untuk membujuk Rara. Bryan pingin hari ini jadi hari pertamanya ngedate ma Rara, tapi rara meolaknya. Mereka sama-sama diam
“Ok Ra… lu gak mau ngedate gak papa, tapi gue pingin ngomong penting banget ma kamu. Tapi aku gak mau ngomong disini, gak enak ma yang lain. Gue mohon lu mau keluar bentar aja.”
“Ya udah …”
Akhirnya mereka pergi ke sebuiah jalan yang sepi disitu mereka mengungkap apa-apa yang ada di hati mereka.
“Ra … lu sebenarnya kenapa sih? Gue gak ngerti, gue ini cowok lu, tapi ngrasa lu tu gak pernah nganggap gue”
“Trus mau kamu apa?”
“Mau aku gak kayak gini, mau aku kamu mencintaqi aku sewajarnya seseorang yang mencintai kekasihnya. Kenapa lu diam ra? Lu tadi nanya mau gue apa? Gue capek Ra kalau lu terus bersikap dingin ma gue. Gue capek pacaran tanpa rasa ketulusan dari lu, gue capek…”
“Gue capek Bryan, gue capek pacaran ma lu, gue capek bohongi perasaan gue terus, gue capaek dengankeadaan ini.” Air mata Rara mulai menetes.
“Maksud lu apa Ra? Lu dah bosen ma gue?”
“Gak Bryan, gue gak pernah bosen sama lu.”
“Terus apa Ra?”
“Maafin gue Bryan, gue gak pernah sayang sama lu. Maafin gue pernah bohongi lu. Gue Cuma gak pingin lihat lu kecewa, gue pingin lu bahagia, mungkin dengan gue nrima lu gue bisa bahagain lu dan juga bisa bahagiain diri gue sendiri, tapi nyatanya gue malah nyakitin lu, gue nyakitin diri gue sendiri, gue tersiksa dengan hubungan ini, maafin gue yan, gue gak bisa lupain orang yang lebih dulu aku cintai dan mencintai aku, maafin aku kalau aku dah egois.”
“Ya udah Ra, makasih lu dah mau jujur sam gue, gue memang gak pantas mencintai da dicitai. Cinta mang gak bisa dipaksa.”
“Gue antar lu pulang Ra.”
Mereka pun pulang dan sampai digerbang kos Bryan menurunkan penumpangnya, siapa lagi kalau bukan Rara.
“Yan, makasih dah antar gue sampai sini, lu gak masuk dulu?”
“Makasih tawarannya, setelah ini lu jangan pernah berharap gue mau injak kos lu lagi, jangan harap gue mau menoleh hal-hal yang berhubunhgan ma lu, dan satu lagi jangan harap gue mau kenal ma elu.”
Rara menundukkan kepala dan meneteska air mata sedang Bryan langsung tancap gas tanpa basa-basi pada Rara.
Braak ….!!
Buku itu dibanting May diatas meja belajar Rara. May menataop Rara tajam, Rara yang lagi tiduran sambil buku langsung bangun.
“Da pa May ….? Tanya Rara
“Otak lu taruh dimana sih Ra, lu dah gak punya hati ya Ra? Dimana sih persaan lu? Mau lu tuh apa Ra?”
May lu kenapa sih?
“Elu yang kenapa?? Kenapa lu mutusin Bryan? Lu dah nyakitin dia tau gak Ra?”
Rara Cuma diam, dia benar-benar ngrasa bersalah, dia gak berani menatap wajah May.
“May, gue dah pernah bilang kan sama lu, gue gak bisa mencintai cowok lain. Gue gak mau nyakitin Bryan.”
“Tapi bukannnya lu mutusin dia, akan lebih nyakitin perasaanya?”
“Gue sadar kok, gue salah dan emag gue ini adalah tempatnya orang bersalah. Lu gak ngerti perasaan gue May, lu gak ngerti?” Rara nangis.
May gantian diam, dia menatap Rara yang masih nangis.
“May, kenapa gue gak bisa ngrasain kebahagiaan?”
“Rara … May…”
Imel datang dan langsung duduk dismping Rara.
“Lu gak papa kan Ra?” tanya Imel
Rara memeluk Imel dan menangis sesenggukan didalam pelukan Imel.
“Sori ya Ra, gue gak bermaksud untuk bentak lu, tapi gue Cuma gak pingin lu nyakitin orang lain, gua juga pigin lu lupain Alex. Cuma itu kok Ra.”
“Ya udah May… Rara kita harus nrima semua kenyataan ini. dan gue harap kalian termasuk gue bisa memulai lembaran baru untuk hari esok dan suatu saat nanti lu Ra pasti akan dapatkan cinta sejati lu. Gue dan May ada untuk lu kok Ra, gue dan May sebagai saahabat lu akan berusaha buat lu bahagia.”
Mereka bertiga berpelukan dn menangis.
SEKIAN
W E L C O M E ! ! !
Waktu Kita
Play !
Blog Archive
-
▼
2009
(51)
-
▼
Agustus
(20)
- AGH
- impas
- TRAGISNYA CINTAKU
- MUSIK, PENTING LOCH BAG! ANAK
- SCTV AWARD 2009
- MENDENGKUR? BERBAHAYA BROW.,.!
- MEMANFAATKAN URINE SEBAGAI BBM
- DOSA YANG LEBIH BESAR DARI ZINA
- LIDAH BUAYA
- FLU BABI TIPS
- MBAH SURIP IS DEAD? HIKS-HIKS-HIKS
- THE VIRGIN-EKSIS DI JALUR POP-ROCK
- TEKA-TEKI
- D'MASIV PLAGIAT?
- SUSU KAMBING
- BEKATUL
- SUP SEAFOOD BEKATUL
- PALA
- Pemenang L-Men of The Year (LOTY) 2009
- FILM PAKU KUNTILANAK (Dewi Perssik dan Keith Foo)
-
▼
Agustus
(20)
