RSS Feed

impas

Posted by: Hendramk / Category:

Oleh : M. H. Sugito

Debu dan asap berkepul – kepul dijalanan kota Jakarta siang ini. Orang – orany berpeluh keringat. Mengendurkan dasi yang mencekik leher, mengusap peluh keringat itulah keadaan sebagian orang – orang dikota Jakarta yang katanya dianggap sebagai kota terpanas di Indonesia. Siang ini memang hari yang panas, mungkin ini tanda –tanda musim kemarau telah tiba atau hanya hal biasa yang terjadi di Jakarta. Ditambah dengan mobil – mobil berlalu lalang bolak balik dengan kepulan asap knalpot. Orang – orang terlihat lemas untuk melakukan kegiatan – kegiatan sehari – hari diluar rumah atau lingkungan kerja. Terik sinar matahari menyinari orang-orang tanpa pelindung, tanpa pepohonan yang melindungi, meneduhi kita dari sinar matahari. Dibawah pohon banyak orang beristirahat mulai dari duduk-duduk santai hingga tidur lelap dengan angin semilir berhembus. Tetapi selain orang-orang yang bersantai, terdapat juga warung-warung kopi yang banyak berdiri di pinggir jalan. Tak jauh dari warung-warung kopi, banyak gedung-gedung perusahaan yang berdiri menjulang langit yang merusak pemandangan hijau daunnya pohon.

“Dari tadi Cuma ngomongin Jakarta, kapan ceritanya”

“Iya. Ini mau dilanjutin”

Datanglah seorang pemuda dengan pakaian yang masih rapi di siang hari yang panas dengan muka yang cukup ganteng. Perawakan tinggi besar tegap, rambut perpotong cepak, yang menghampiri warung kopi dengan membawa map yang berisi lampiran lamaran pekerjaan. Dialah joni, joni adalah seorang pemuda lulusan sarjana ekonomi yang berasal dari desa yang kurang ternama, maksudnya cukup terpencil. Dia adalah salah satu anak desa yang berhasil dalam bidang pendidikan. Sudah beberapa hari ini dia berkeliling mencari pekerjaan dan sampai saat ini dia belum juga mendapat pekerjaan di kota Jakarta yang disebut – sebut sebagai kota emas oleh orang-orang desa yang masih awam untuk kota itu tetapi sesungguhnya kota tersebut hanyalah gurun pasir yang susah untuk mencari air(pekerjaan). Dia sudah mendatangi 100 perusahaan itu, 80 perusahaan tidak ada lowongan pekerjaan, 15 perusahaan ada lowongan pekerjaan tapi dia tidak di terima karena kurang pengalaman dan lainnya perusahaan tidak jelas.

Setelah mengunjungi perusahaan ke 101 dan didak diterima juga dia pun lelah untuk mencari pekerjaan, kemudian dia duduk di warung kopi tersebutdan bercakap-cakap dengan pemilik warung yang terlihat cukup ramah. Mereka bercakap-cakap tentang kerasnya kehidupan di Jakarta sabagai kota metropolitan. Setelah menceritakan tentang dirinya, jonipun ingin juga mendengar cerita dari pemilik warung tersebut

“Bagaimana dengan mas sendiri.” Joni terlihat penasaran

“Begini…..Tapi sebelumnya Nama Saya Andi”

“oh….iya nama saya Joni”

“Jadi begini ceritanya…………..”

Kemudian pemilik Warung itu menceritakan bahwa dia saat datang ke Jakarta tidak tahu apa-apa. Saat itu di Jakarta memang cukup banyak lowongan tapi karena persyaratan, ia pun ditolak oleh perusahaan yang ia kunjungi. Kemudian ia hanya bekerja serabutan dan hasil ia dapat mendirikan sebuah warung kopi.

“begitulah ceritanya”

Setelah mendengar cerita itu Joni pun berpikir tentang nasibnya nanti kalau tak dapat kerja. Sarjana saja di Jakarta hanya dianggap sebagai lulusan SD kalau tanpa pengalaman pekerjaan. Didesa seorang sarjana dianggap orang yang nantinya akan jadi sukses tetapi di Jakarta seorang sarjana hanya seorang anak kecil yang tak tahu apa-apa.

“mas, kok bengong sih”

“Nggak…mas!”

Setelah beberapa menit bercakap-cakap dengan pemilik warung kopi tersebut tiba-tiba terdengar wanita berteriak.

“tolong-tolong”

“mas ada yang minta tolong, tolongin dong !”

Kemudian dengan refleksnya, ia lalu mengejar penjambret itu. Dan baru beberapa langkah menghajar, ia pun balik dan mendatangi wanita itu.

“hai gadis, aku joni doain aku ya supaya berhasil”

“ok, aku doain kamu tapi kamu harus berhasil menangkap penjambret itu ya.”

Kemudian Joni berlari sekencang mungkin mengejar penjambret itu dengan kekuatan penuh. Setelah satu menit mengikuti penjambret itu akhirnya ia pun tepat berada di belakang. Penjambret itu pun tahu bahwa joni berada di belakangnya. Untuk mengecok Joni penjambret itu berlari-lari berkelok-kelok seperti pembalap formula satu yang ngepot ke sana sini melalui gang-gang sempit, menyebrangi sungai, melewati rumah-rumah kumuh. Setelah berkejar-kejaran selama lebih dari 10 menit dan menempuh jarak 5 km, merekapun kelelahan untuk berlari lagi, merekapun melanjutkan kejar- kejaran dengan berjalan sambil nafas terenggah-enggah Jonipun berhenti saat melihat wanita yang sangat cantik, tubuh berbentuk langsing , parasnya, berambut panjang dengan pakaian minim, bajunya minim serta roknya sangat minim. Cantik bagai dewi disiang bolong. Jonipun terpana lalu sambil berjalan pelan dengan memerhatikan wanita itu. Tanpa sengaja ia menabrakkan dirinya pada tiang listrik ti tepi jalan. Seketika Joni merasa kepalanya sangat pusing , pening dan pastinya sangtat sakit.

“dug.ahhhh….ahhhh Tiang kok ada lima.”

Setelah itu, pada saat Joni menabrakkan dirinya pada tiang. Penjambret itu melihat Joni dan mulai tertawa terbahak-bahak tanpa henti.

“makanya jaga matamu untuk tidak melihat kemana-mana saat kau lari.’’

Dengan mata masih berkunang-kunang,kepala pusing, pening, jonipun masih sanggup mencoba mengejar penjambret itu. Tetapi baru beberapa langkah Jonipun tak sengaja mengijak kulit pisang. Dan ia pun terpeleset dan kemudian ia terjatuh.

“oh…..tidak.”

Kemudian penjambret itupun tertawa terbahak-bahak lagi dan tak sadar dia ngompol dicelana. Jonipun berganti yang tertawa terbahak-bahak.

“ini sangat memalukan, penjambret kok ngompol dicelana kayak anak kecil saja.”

“Diam kau awas kau, oh iya akukan harus lari dari pada memikirkan ngompol.”

“Tunggu”

Mereka mulai berkejar-kejaran lagi walaupun Joni sangat kesakitan karena menabrak tiang dan terjatuh terpeleset. Setelah beberapa menit , jonipun mulai pulih untuk mengejar lagi penjambret. Seperti yang sebelumnya , penjambret itu mulai melakukan lari zig zag, kesana kemari. Saat ada pertigaan yangdidepan ada sebuah sungai, penjambret itu bingung untuk memilih jalan yang kanan atau kiri. Iapun berhenti sejenak dan menoleh ke kanan dank e kir. Kemudian ia menoleh kebelakang dan melihat Joni semakin dekat. Jonipun tidak ingin meloloskan penjambret itu. Dengan semangat yang meledak-ledak untuk menangkap penjambret, kemudian Joni melompat seperti harimau yang mau menerkam mangsa dan saat yang lebih cepat dari joni, penjambret itupun menghindar dan Jonipun tersungkur dan mengenlinding (menyusuri tanah) ditepi sungai dan akhirnya Jonipun terjatuh kedalam sungai yang cukup kotor.

“wow… itu sangat bagus, saya beri nilai 10.” (sambil tertawa)

“ Jangan tertawa, awas kalau ketangkap”

Kalau gitu aku pergi dulu”

Penjambret itupun pergi dan mulai tak terlihat lagi. Jonipun keluar dari sungai dan mencari wanita itu. Dan minta maaf kapada wanita itu

“maaf nona aku tak dapat penjambret itu”

Oh tidak apa-apa. Tapi kenapa kamu terlihat seperti itu”

Ceritanya panjang. Udah ya sampai jumpa”

##*****************##

Beberapa hari kemudian, Joni masih berkeliling mencari kerja. Masih saja Joni tidak dapat pekerjaan, tapi Joni tidak menyerah sebelum ia mendapatkan pekerjaan jika tak mendapatkan pekerjaan juga ia akan mencari pekerjaan yang lain dan yang lain serta yang lain. Seperti biasanya ia pergi ke warung milik Andi dan nongkrong sambil menikmati segelas es kopi susu dingin, minuman favoritnya di siang bolong yang cukup panas.

Setelah beberapa menit kemudian ada wanitaberteriak minta tolong karena ia di jambret oleh seorang penjambret yang pernah menjambret beberapa lalu ketika Joni tak bias menangkapnya karena kecerobohan Joni.

“oh.. ternyat dia lagi. Hari ini aku pasti menang”

“Jupin,junep jojon ah siapa sih namanya”

“Joni, Joni”

“Oh ya joni, semoga berhasil”

Kemudian joni pun berlari kencang sekali untuk mengejar penjambret itu. Penjambret itupun menoleh ke belekang untuk melihat siapa yang mengejarnya. Kemudian penjambret kaget karena yang mengejarnya orang yang sama saat ia dikejar joni. Penjambret itu berpikir, mudah untuk mengecoh joni untuk yang kedua kalinya. Jadi penjambret itu menambah kecepatan dan mulai berlari berkelok-kelok, meloncati parit dan melewati tanah kosong. Joni juga kaget karena yang dia kejar penjambret yang dulu mempermainkan hingga jatuh ke sungai yang kotor. Joni menjadi bernafsu untuk mendapatkan penjambret itu dan membalas dendam. Joni tak ingin lagi dipermainkan oleh penjambret itu jadi ia lebih hati-hati untuk memperhatikan jalan dalam mengejar penjambret itu walaupun penjambret itu mengecoh joni dengan berlari kencang dan berkelok-kelok melempati tempat-tempat sepi. Setelah 20 menit mengejar penjambret itu yang menempuh jarak 15 km. merekapun mulai leleah dan nafasnya terenggah-enggah. Stamina mereka meningkat karena dapat berlari selama 20 menit tanpa henti. Ternyata setelah kejadian yang memalukan itu, joni terus berlatih dengan selalu berlari-lari saat pagi hari sebelum mencari pekerjaan. Begitupun dengan penjambret itu. Penjambret itu melihat joni apakah joni masih di belakang penjambret itu. Penjambret itu kaget malihat joni masih dibelakangnya . kemudian penjambret itu lari lagi dengan masih menoleh-noleh ke belakang sambil berlari. Karena itu tanpa sengaja menabrak sebuah mobil yang diparkir di tepi jalan.

“dug..ohhh….”

Rasanya bagaimana mas, enak tho, mantap tho, ayo sini tak gendong ke rumah sakit.” (Sambil tertawa terbahak-bahak)

Seperti pejuang yang tak ingin menyerah oleh penjajah, penjambret itu kemudian bangun dan melanjutkan untuk berlari menghindari dari kejaran joni. Joni masih tertawa tarbahak-bahak tak sadar bahwa penjambret itu sudah kabur agak jauh dengan masih merasakan kesakitan setelah menabrak mobil yang terparkir ditepi jalan. Jonipun ikut berlari mengejar penjambret itu. Setalah satu menit pengejaran yang berjalan kurang menarik karena stamina sudah menurun karena kelelahan jadi larinya cukup lambat dank arena itu pengejaran kurang menarik lagi dari yang pertama tadi. Walaupun larinya semua pada lambat, pengejaran menjadi menarik karena penjambret mulai cemas karena si joni mulai dekat untuk menangkapnya, karena kecemasanya penjambret itu berlari sambil menoleh-noleh ke belakang dan akhirnya ia terjatuh kedalam lubang yang ada didalam nya saat penjambret itu melihat joni di belakang. Jonipun tertawa terbahak-bahak.

“kamu sudah menyerah belum”

“Sebenarnya sih belum, tapi karena aku sudah lelah aku menyerah . apalagi badanku sudah sakit semua”

“Bagaimana bila kamu menyusuri tepian sungai dan akhirnya jatuh juga ke sungai yang kotor, pasti sakitlah. Itu sama dengan hari ini.”

“Ya aku menyerah. Ini tasnya. Tapi jangan dilaporkan ke kantor polisi ya.’’

“Emangnya kenapa kalau dilaporkan “

“jangan, kamu tau kenapa saya menjambret, saya dulunya juga dari desa…………”

Penjambret itu menceritakan bahwa ia juga dari desa sekitar dua tahun yang lalu. Ketika itu ia tak tahu apa-apa dengan Jakarta. Walaupun lulusannya juga sarjana seperti joni dan anadi si pemilik warung kopi dipinggir jalan. Karena tak kunjung dapat kerja dan iang dari desa habis, ia pun menjadi penjambret.

“begitulah cerita saya”

“Ya sudah taka pa-apa” (kemudian menolong penjambret itu)

“terima kasih aku janji tidak akan menjambret lagi sekarang.”

“kalau aku sudah dapat pekerjaan dan ada lowongan pekerjaan nanti aku cari kamu”

“Terima kasih. Nanti aku tungguin di tongkrongan mu biasanya di warung kopi itu, aku tunggu hasilnya, ya!”

“Tapi aku tidak janji ya”

“nggak apa-apa”

Kemudian joni pun pergi ke tempat wanita yang di jambret itu didekat warung kopi Andi di pinggir jalan. Wanita menunggu dengan cemas di warung kopi tersebut.

“hey nona. Ini tasmu”

“Terima kasih”

“Tapi kenapa kemarin, saya tak berhasil menangkap penjambret itu kamu tidak marah”

“karena tas itu hanya berisi uang. Tapi yang ini ada suratsurat yang sangat penting”

“Oh..iya-iya. Tapi mana hadiahnya. Oh ya ini ada pesan dari penjambret itu”

“apa isinya?”

“bacalah sendiri. Tapi mana hadiahnya?”

“oh ya, nama saya Diana”

“Diana”

“kamukan menanyakan namaku. Itu sudah saya jawab dan ini satu lagi”

“Apa ini”

“lihatlah saja, sampai jumpa”

Kemudian joni hanya terbengong pada wanita yang sudah pergi agak jauh, Diana hanya member sebuah kertas yang berisi tentang lowongan pekerjaan di perusahaan yang cukup elite dan disitu tertulis Diana sebagai direkturnya. Disitu tertulis juga dibutuhkan dua orang untuk bekerja di perusahaan tersebut. Hal ini masih membuat joni bingung dan terbengong didepan warung kopi selama beberapa menit.


0 komentar: